Apa Bedanya Bahan Makanan Organik dengan Non Organik ?

Banyak yang masih bingung dengan perbedaan produk yang dihasilkan dengan organik ataupun yang ditanam secara konvensional selain dengan perbedaan harga yang cukup lumayan. Sekarang ini sudah banyak bisa kita dapatkan produk-produk organik yang dijual dipasaran baik itu pasar modern hingga ke pasar tradisional sekalipun, sebagai satu contoh yang mana anda memiliki 2 buah tomat yang mana 1 buah tomat ini ditanam secara konvensional dan 1 buah tomat yang lainnya dihasilkan dari proses penanaman secara organik. Kedua jenis apel ini sama sama tampak mengkilat dan merah. Keduanya juga kaya akan vitamin dan serat, dan keduanya bebas dari lemak, sodium dan kolesterol. Keduanya ini tentunya cukup membingungkan anda untuk memilih ? Sebelum anda memutuskan apa yang harus anda pilih sebaiknya kita melihat fakta perbedaan tanaman organik dengan tanaman non organik atau  konvensional.

bahan organik vs non organik

Pola tanam pertanian organik versus metode pertanian konvensional
Sebuah kata yang biasa kita dengar yakni Organik mengacu kepada cara para petani dalam menanam dan menghasilkan produk pertanian seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, produk susu dan daging. Praktek pertanian organik dirancang untuk mendorong konservasi tanah dan air dan mengurangi polusi.
Sehingga petani yang menanam atau yang menghasilkan produk organik tidak memakai dan menggunakan metode konvensional (pestisida kimia/obat kimia hingga pupuk kimia) untuk menyuburkan dan mengontrol hama serta gulma. Contoh praktek pertanian organik termasuk menggunakan pupuk alami untuk memberi makan tanah dan tanaman, dan menggunakan rotasi tanaman atau mulsa untuk mengelola gulma.
Cara mengetahui sebuah produk itu hasil organik atau tidak yakni : Periksa Label Pada Kemasan
Sebuah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah membentuk sebuah program sertifikasi organik yang mengharuskan semua makanan yang dihasilkan organik untuk memenuhi standar pemerintah yang ketat. Standar ini mengatur bagaimana makanan seperti tumbuh, ditangani dan diproses.
Setiap produk berlabel organik harus bersertifikat USDA. Namun bagi produsen yang menjual kurang dari $ 5,000 per tahun dalam makanan organik dibebaskan dari sertifikasi ini; Akan tetapi mereka masih dibutuhkan untuk mengikuti standar USDA untuk makanan organik.
Jika bahan makanan dan minuman yang dipasarkan telah memiliki label USDA Organic, itu berarti itu diproduksi dan diproses sesuai dengan standar USDA. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah banyak juga sayur-sayuran atau buah buahan yang sudah memiliki label organik.
Istilah yang biasa dipakai dan tertera pada label :
Produk yang benar-benar organik – seperti buah-buahan, sayuran, telur atau makanan tunggal bahan lainnya – yang berlabel 100 persen organik dan dapat membawa segel USDA.
Makanan yang memiliki lebih dari satu bahan, seperti sereal sarapan, bisa menggunakan segel organik USDA ditambah kata-kata berikut, tergantung pada jumlah bahan organik:
100 Persen Organik. Agar bisa memakai label dan kalimat ini, produk yang dihasilkan harus baik dan keseluruhannya benar-benar organik atau yang terbuat dari semua bahan-bahan organik.
Produk Organik. Produk ini setidaknya harus minimal 95 persen organik agar dapat menggunakan istilah ini.
Sedangkan bagi produk yang mengandung setidaknya 70 persen bahan organik dapat mengatakan “terbuat dari bahan-bahan organik” pada label, tapi mungkin tidak menggunakan segel. Makanan yang mengandung kurang dari 70 persen bahan organik tidak dapat menggunakan segel atau kata “organik” pada label produk mereka. Mereka dapat mencakup item organik dalam daftar bahan mereka.
Memilih Makanan organik: Apakah mungkin lebih bergizi?
Kemungkinannya tidak, namun jawaban dari pertanyaan ini masih belum sepenuhnya jelas. Bahkan sebuah studi baru-baru ini olah para peneliti yang menyimpulkan bahwa bahan makanan organik dan konvensional yang dihasilkan tidak berbeda secara signifikan dalam kandungan gizi mereka.
Faktor dan pertimbangan apa yang bisa membuat kita memutuskan memilih makanan organik ?
Ada banyak faktor yang sangat mempengaruhi keputusan untuk memilih makanan organik. Sebagian orang memilih makanan organik karena mereka lebih suka rasa, namun sebagian orang yang lainnya memilih untuk organik karena kekhawatiran seperti:

  • Pemakaian Pestisida. Petani konvensional menggunakan pestisida sintetis/kimia untuk melindungi tanaman mereka dari hama, serangga dan penyakit. Ketika petani menyemprot pestisida, ini dapat meninggalkan residu pada hasil pertaniannya. Sedangkan bagi petani organik menggunakan perangkap serangga, pemilihan jenis tanaman yang unggul (varietas tahan penyakit), serangga predator atau mikroorganisme yang menguntungkan bukan untuk mengendalikan hama tanaman yang merusak. Beberapa orang membeli makanan organik untuk menghindari dan menjaga kesehatan mereka terhadap bahaya residu ini. Produk organik biasanya membawa residu pestisida secara signifikan lebih sedikit daripada produk konvensional. Namun, residu pada kebanyakan produk – baik organik dan nonorganik – tidak melebihi ambang batas aman pemerintah.
  • Tambahan zat Aditif makanan. Banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan, alat bantu pengolahan (zat yang digunakan selama pemrosesan, tapi tidak ditambahkan langsung ke makanan) dan agen memperkuat umum digunakan dalam makanan nonorganik, termasuk pengawet, pemanis buatan, pewarna dan perasa, dan monosodium glutamat.
  • Dampak Lingkungan. Beberapa orang membeli makanan organik untuk alasan lingkungan. Praktek pertanian organik dirancang untuk menguntungkan lingkungan dengan mengurangi polusi dan konservasi air dan kualitas tanah. Ketika pertanian konvensional yang banyak menggunakan pupuk kimia atau bahan sintetis lainnya secara tidak langsung ikut mencemari lingungan disekitarnya.

Apakah ada kerugian untuk membeli bahan makanan organik?
Salah satu yang menjadi perhatian bersama dengan makanan organik adalah biaya. Makanan organik biasanya biaya lebih besar dan tinggi dari produk pertanian konvensional. Harga yang lebih tinggi adalah karena, sebagian, untuk praktek pertanian yang lebih mahal.
Karena buah-buahan dan sayuran organik tidak diperlakukan dengan lilin atau pengawet, oleh karnanya produk organik ini bisa rusak dalam waktu yang lebih cepat bahkan dalam beberapa jenis produk organik mungkin akan terlihat kurang sempurna ,berbagai warna atau ukuran yang lebih kecil. Namun, makanan organik harus memenuhi standar kualitas dan keamanan yang sama dengan makanan konvensional.

Tips dalam memilih bahan makanan yang baik
Jika anda memutuskan untuk memilih benar-benar organik atau memilih untuk mencampur makanan konvensional dan organik, pastikan untuk melakukan atau menjalankan tips berikut ini:

  1. Pilih berbagai jenis bahan makanan dari berbagai sumber. Ini akan memberi Anda campuran nutrisi yang lebih baik dan mengurangi kemungkinan Anda terkena pestisida tunggal.
  2. Pastikan dalam membeli buah-buahan dan sayuran selalu segar atau fresh.Untuk mendapatkan produk segar anda bisa langsung membeli makanan dari pasar tradisional atau langsung kepada petani local didaerah dekat rumah anda.
  3. Perhatikan selalu untuk membaca label makanan dengan hati-hati. Hanya karena sebuah produk mengatakan itu organik atau mengandung bahan organik tidak berarti ini adalah alternatif yang lebih sehat. Beberapa produk organik mungkin masih tinggi gula, garam, lemak atau kalori.
  4. Selalu mencuci dan menggosok buah-buahan dan sayuran segar secara menyeluruh di bawah air mengalir. Cuci membantu menghilangkan kotoran, bakteri dan jejak bahan kimia dari permukaan buah dan sayuran. Tidak semua residu pestisida dapat dihilangkan dengan mencuci, meskipun. Anda juga dapat mengupas buah dan sayuran, tetapi mengupas dapat berarti kehilangan beberapa serat dan nutrisi.

Source : www.mayoclinic.org

Kopi Bisa Menurunkan Risiko Kanker Usus Besar

kopi berkafeinPasien kanker usus besar yang secara teratur minum kopi berkafein menurut penelitian terbaru, bisa menurunkan risiko kambuhnya tumor atau kanker dan risiko kematian akibat penyakit ini.

Namun para peneliti menambahkan bahwa temuan ini terlalu dini untuk dibuktikan kebenarannya bahwa minum kopi dapat mengurangi risiko kembalinya kanker usus.

Studi ini menemukan bahwa pasien kanker stadium lanjut (stadium III dan IV ) yang minum lebih dari empat cangkir kopi setiap hari memiliki kemungkinan 52 persen lebih rendah untuk mengalami kekambuhan penyakit atau kematian akibat kanker usus. Untuk stadium yang lebih rendah para pasien yang secara teratur minum kurang dari 3 cangkir kopi per hari, juga tampaknya menuai beberapa manfaat yang sama.

“Sudah banyak bukti yang melimpah bahwa diet dan gaya hidup memiliki banyak dampak positif dalam mengurangi risiko mengembangkan penyakit kanker usus besar,” jelas penulis studi Dr Charles Fuchs, direktur Pusat Kanker Gastrointestinal di Dana-Farber Cancer Institute Boston. “Sekarang kami telah menemukan bahwa kopi berkafein tampaknya dapat meningkatkan hasil pengobatan bagi pasien kanker usus besar,” lanjutnya.

Bagaimanapun penting untuk dicatat, bahwa penelitian ini hanya didesain untuk menemukan hubungan antara konsumsi kopi dan risiko lebih rendah akan kambuhnya kanker usus besar atau kematian dari kanker usus besar. Namun penelitian ini tidak dirancang untuk pembuktian hubungan sebab-akibat.

Temuan studi yang dirilis secara online pada tanggal 17 Agustus dalam Journal of Clinical Oncology.

Untuk mengeksplorasi dampak kopi pada kanker usus besar, tim peneliti berfokus pada sekitar 950 orang pasien kanker kolon stadium III. Mereka semua menyelesaikan kuesioner gizi saat menjalani perawatan kemoterapi pascaoperasi di beberapa titik antara tahun 1999 dan 2001.

Informasi diet dikumpulkan lagi enam bulan setelah selesai kemoterapi.

Para relawan penelitian ditanya tentang lebih dari 130 item yang berbeda makanan dan minuman. Item-item termasuk kopi berkafein, kopi tanpa kafein dan teh herbal. Pada gilirannya, kambuhnya kanker dan tingkat kematian pasien dipantau selama lebih dari tujuh tahun.

Studi ini menemukan bahwa penyakit kanker kembali pada 329 orang, sebagian besar dalam waktu lima tahun semenjak pengobatan awal. Dari jumlah tersebut, 288 meninggal karena penyakit mereka. Dan 36 orang yang tidak memiliki diagnosis akan kekambuhan kanker juga meninggal selama studi tindak lanjut.

Para peneliti menemukan bahwa minum dua cangkir kopi berkafein setiap hari dikaitkan dengan penurunan risiko kambuhnya kanker dan kematian kanker usus besar. Perlindungan yang lebih besar bagi mereka mengkonsumsi tiga atau empat cangkir kopi setiap hari.

Sumber: health.com